DISPEPSIA
Menurut Arif Mansjoer dkk (2001), dispepsia diartikan sebagai kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan
Dispepsia merupakan kumpulan gejala berupa keluhan nyeri, perasaan tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, heartburn, kembung, sendawa, anoreksia, mual,dan muntah. (Tarigan, 2003).
KLASIFIKASI DISPEPSIA
1.Dispepsia Organik
Dispepsia organik adalah dispepsia yang telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya misalnya adanya tukak di lambung dan usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2.Dispepsia Fungsional
Dispepsia dispepsia fungsional atau nonorganik atau dispesia nonulkus (DNU) adalah dispepsia yang terjadi tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan)
FAKTOR RESIKO
1.Faktor Psikososial
Dispepsia fungsional sangat berhubungan erat dengan faktor psikis. Berbagai penelitian memang telah membuktikan hubungan antara faktor fungsional dengan faktor stres yang dialami seseorang terutama faktor kecemasan (ansietas).
2.Penggunaan Obat-Obatan
Sejumlah obat dapat menyebabkan gangguan epigastrum, mual, muntah dan nyeri di ulu hati. Misalnya aspirin, senyawa-senyawa yang mengandung aspirin, antibiotik oral (terutama ampisilin, eritromisin), teofilin, digitalis dan obat-obat anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs)
Pola Makan Tidak Teratur
Pola makan yang tidak teratur terutama bila jarang sarapan di pagi hari, termasuk yang berisiko dispepsia. Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak. Sehingga bila tidak sarapan, maka lambung akan lebih
3.Kebiasaan Tidak Sehat
a). Mengisap rokok berlebihan.
b). Minum alkohol secara berlebihan.
c). Minum kopi, teh atau minuman lain yang mengandung kafein
d). Terlalu sering mengkonsumsi makanan yang berminyak dan berlemak.
Lingkungan
Penyebaran dispepsia pada umumnya pada lingkungan yang padat penduduknya, sosio ekonomi yang rendah, dan banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju.
PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap penyakit dispepsia ini adalah sebagai berikut:
1.Pencegahan Primordial
Merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum memiliki faktor risiko dispepsia, dengan memberikan penyuluhan tentang cara mengenali dan menghindari keadaan/kebiasaan yang dapat mencetuskan serangan dispepsia.
2.Primer (Primary Prevention)
Berperan dalam mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia pada orang yang sudah mempunyai faktor risiko dengan cara membatasi atau menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti makan tidak teratur, merokok, mengkonsumsi alkohol, minuman bersoda, makanan berlemak, pedas, asam dan menimbulkan gas di lambung.
3.Pencegahan Sekunder ( Secondary Prevention)
Diet mempunyai peran yang sangat penting. Dasar diet tersebut adalah makan sedikit berulang kali. Makanan harus mudah dicerna, tidak merangsang peningkatan asam lambung dan bisa menetralisir asam HCL. Obat-obatan untuk mengatasi dispepsia adalah antasida, antagonis reseptor H2, Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI), sitoprotektif, prokinetik. Bagi yang berpuasa, untuk mencegah kambuhnya sindrom dispepsia, sebaiknya menggunakan obat antiasam lambung yang bisa diberikan saat sahur dan berbuka untuk mengontrol asam lambung selama berpuasa sehingga keluhan yang timbul saat berpuasa, terutama saat perut sudah kosong (6-8 jam setelah makan terakhir), dapat dikurangi.
4.Pencegahan Tersier
Penting sekali untuk para tenaga medis/psikiater untuk menelusuri kejadian yang menimpa pasien dalam suatu sistem terapi secara terpadu.Dengan Rehabilitasi mental melalui konseling diharapkan terjadi progresifitas penyembuhan yang baik setelah faktor stres ditangani.
Moch. Adriyan
c1aa18070
REFERENSI
Khotimah, N.Ariani, Y.2013.Sindroma dispepsia mahasiswa fakultas keperawatan Universitas Sumatra Utara
Rios, S, A. Prieto, O, P. Loyola, T, C. Rodriguez, E. Reto, C, P.2013. Dyspepsia: clinical characteristics, endoscopic and histological findings in patients of the Hospital Nacional Hipolito Unanue, during 2010. Rev Gatroenterol Peru. 2013;33(1):28-33
Yui Muya, Y.Murni, A, W.Herman, R, B.2015.Karakteristik Penderita Dispepsia Fungsional yang Mengalami Kekambuhan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat Tahun 2011. Jurnal Kesehatan Andalas; 4(2)
Putri, C, A.Asterina, A.2016.Gambaran Klinis dan Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas Pasien Dispepsia di BagianRSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas; 5(2)
Menurut Arif Mansjoer dkk (2001), dispepsia diartikan sebagai kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan
Dispepsia merupakan kumpulan gejala berupa keluhan nyeri, perasaan tidak enak perut bagian atas yang menetap atau episodik disertai dengan keluhan seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, heartburn, kembung, sendawa, anoreksia, mual,dan muntah. (Tarigan, 2003).
KLASIFIKASI DISPEPSIA
1.Dispepsia Organik
Dispepsia organik adalah dispepsia yang telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya misalnya adanya tukak di lambung dan usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2.Dispepsia Fungsional
Dispepsia dispepsia fungsional atau nonorganik atau dispesia nonulkus (DNU) adalah dispepsia yang terjadi tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan)
FAKTOR RESIKO
1.Faktor Psikososial
Dispepsia fungsional sangat berhubungan erat dengan faktor psikis. Berbagai penelitian memang telah membuktikan hubungan antara faktor fungsional dengan faktor stres yang dialami seseorang terutama faktor kecemasan (ansietas).
2.Penggunaan Obat-Obatan
Sejumlah obat dapat menyebabkan gangguan epigastrum, mual, muntah dan nyeri di ulu hati. Misalnya aspirin, senyawa-senyawa yang mengandung aspirin, antibiotik oral (terutama ampisilin, eritromisin), teofilin, digitalis dan obat-obat anti-inflamasi non-steroid (NSAIDs)
Pola Makan Tidak Teratur
Pola makan yang tidak teratur terutama bila jarang sarapan di pagi hari, termasuk yang berisiko dispepsia. Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak. Sehingga bila tidak sarapan, maka lambung akan lebih
3.Kebiasaan Tidak Sehat
a). Mengisap rokok berlebihan.
b). Minum alkohol secara berlebihan.
c). Minum kopi, teh atau minuman lain yang mengandung kafein
d). Terlalu sering mengkonsumsi makanan yang berminyak dan berlemak.
Lingkungan
Penyebaran dispepsia pada umumnya pada lingkungan yang padat penduduknya, sosio ekonomi yang rendah, dan banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju.
PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap penyakit dispepsia ini adalah sebagai berikut:
1.Pencegahan Primordial
Merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum memiliki faktor risiko dispepsia, dengan memberikan penyuluhan tentang cara mengenali dan menghindari keadaan/kebiasaan yang dapat mencetuskan serangan dispepsia.
2.Primer (Primary Prevention)
Berperan dalam mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia pada orang yang sudah mempunyai faktor risiko dengan cara membatasi atau menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti makan tidak teratur, merokok, mengkonsumsi alkohol, minuman bersoda, makanan berlemak, pedas, asam dan menimbulkan gas di lambung.
3.Pencegahan Sekunder ( Secondary Prevention)
Diet mempunyai peran yang sangat penting. Dasar diet tersebut adalah makan sedikit berulang kali. Makanan harus mudah dicerna, tidak merangsang peningkatan asam lambung dan bisa menetralisir asam HCL. Obat-obatan untuk mengatasi dispepsia adalah antasida, antagonis reseptor H2, Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI), sitoprotektif, prokinetik. Bagi yang berpuasa, untuk mencegah kambuhnya sindrom dispepsia, sebaiknya menggunakan obat antiasam lambung yang bisa diberikan saat sahur dan berbuka untuk mengontrol asam lambung selama berpuasa sehingga keluhan yang timbul saat berpuasa, terutama saat perut sudah kosong (6-8 jam setelah makan terakhir), dapat dikurangi.
4.Pencegahan Tersier
Penting sekali untuk para tenaga medis/psikiater untuk menelusuri kejadian yang menimpa pasien dalam suatu sistem terapi secara terpadu.Dengan Rehabilitasi mental melalui konseling diharapkan terjadi progresifitas penyembuhan yang baik setelah faktor stres ditangani.
Moch. Adriyan
c1aa18070
REFERENSI
Khotimah, N.Ariani, Y.2013.Sindroma dispepsia mahasiswa fakultas keperawatan Universitas Sumatra Utara
Rios, S, A. Prieto, O, P. Loyola, T, C. Rodriguez, E. Reto, C, P.2013. Dyspepsia: clinical characteristics, endoscopic and histological findings in patients of the Hospital Nacional Hipolito Unanue, during 2010. Rev Gatroenterol Peru. 2013;33(1):28-33
Yui Muya, Y.Murni, A, W.Herman, R, B.2015.Karakteristik Penderita Dispepsia Fungsional yang Mengalami Kekambuhan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat Tahun 2011. Jurnal Kesehatan Andalas; 4(2)
Putri, C, A.Asterina, A.2016.Gambaran Klinis dan Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas Pasien Dispepsia di BagianRSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas; 5(2)
Sangat bermanfaat👍👍
BalasHapusAlhamdulillah.. Terimakasih ilmunya..
BalasHapusUnfaedah
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat sekali kak 😇🙏
BalasHapusMasnya copas dimana ya?
BalasHapusTolong dong, mas nya baca dulu, kan saya udah cantumin referensi
Hapusterimakasi ilmunya
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat👍
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusterimaksih atas ilmunya
BalasHapusAnda sangat kritis sekali membutnya, terus kembangkan keahlianmu sul
BalasHapusNambah ilmu baru nih 🙏
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus